INTEGRASI TASAWUF DAN SAINS
IDENTITAS
Nama :Joan aji pambudi
NIM :
72154053
Prodi/Sem. : Sistem Informasi-2 / III
Fakultas : Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi : UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu : Dr. Ja’far, MA
Matakuliah : Akhlak Tasawuf
TEMA : Integrasi Tasawuf dan
Sains
BUKU
Identitas
Buku : Ja’far, Gerbang
Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis Ajaran Kaum Sufi(Medan:
Perdana Publishing, 2016)
INTEGRASI TASAWUF DAN
SAINS
Sub 1 : Integrasi Tasawuf dan Sains
Sub 1 : Integrasi Tasawuf dan Sains
Dalam
sejarah islam, ditemukan seorang ahli astronomi, ahli biologi , ahli
matematika, dan ahli arsitektur yang mumpuni dalam bidang ilmu-ilmu keislaman
seperti tauhid, fikih, tafsir hadis, dan tasawuf. Meskipun berprofesi sebagai
saintis dalam bidang ilmu-ilmu kealaman, para pemikir muslim klasik menempuh
pola hidup sufistik, dan kajian-kajian ilmiah mereka diarahkan kepada
pencapaian tujuan-tujuan religius dan spiritual. Para filsuf dari mazhab
Peripatetik merupakan pemikir muslim yang berhasil mengintegrasikan filsafat
yunani dengan ajaran islam yang bersumberkan kepada Alquran dan hadis, lantaran
tema-tema filsafat yunani dengan di islamisasikam dan disesuaikan dengan
paradigma islam. Tidak sebatas integrasi belaka, mereka malah mampu menguasai
berbagai disiplin ilmu yang terdiri atas ilmu-ilmu kewahyuan, sehingga
integrasi menjadi sangat mudah dilakukan. Al-Jahiz adalah ahli dalam bidang
sastra arab, biologi, zoologi,sejarah,filsafat, psikologi, teologi, dan
politik. Al-Kindi menguasai seluruh cabang filsafat seperti,metafisika,etika,,logika,,psikologi,,kedokteran,
farmakologi,matematika,astrologi,optik,zoologi,dan meteorologi. Al-Razi adalah
ahli dalam bidang filsafat, kimia,matematika, musik, dan kedokteran. Diantara
prestasi besar mereka sebagian ilmuan Muslim adalah kemampuan mereka menguasai
dan mengintegrasikan ilmu-ilmu rasional,ilmu-ilmu empirik, dan ilmu-ilmu
kewahyuan. Secara keilmuan mereka menguasai banyak disiplin ilmu, dan secara
personal mereka berperan sebsgsi saintis Muslim yang berpola hidup religius dan
sufistik. (Ja’far, gerbang tasawuf 2016
:102 dan 103).
Sub
2 : Integrasi dalam Ranah Epistemologi
Istilah
epistemologi berasal dari bahasa Yunani, espiteme yang bermakna pengetahuan,
dan logos yang bermakna ilmu atau eksplanasi, sehingga epistemologi berarti
teori pengetahuan. Epistemologi dimaknai sebagai cabang filsafat yang membahas
pengetahuan dan pembenaran, dan kajian pokok epistemology adalah makna
pengetahuan, kemungkinan manusia meraih pengetahuan, dan hal – hal yang dapat
diketahui. Dengan demikian, epistemologi adalah ilmu tentang cara mendapatkan
ilmu. (Ja’far,2016:107-108)
Kajian
– kajian ilmu – ilmu alam menghandalkan metode observasi dan eksperimen yang
disebut dalam epistemologi islam sebagai metode tajribi, sedangkan kajian
tasawuf mengandalkan metode irfani yang biasa disebut metode tazkiyah al nafs.
Meskipun ada perbedaan metode, tetapi kedua metode bisa melengkapi dan
mendukung satu sama lain. (Ja’far,2016:108)
Dari
aspek ini, saintis muslim, meskipun lebih banyak mengedepankan metode tajribi
dalam mengembangkan ilmu – ilmu alam, tetap perlu mengambil metode tasawuf
dalam menemukan ilmu dan kebenaran, dimana kaum sufi mengutamakan metode
tazkiyah al nafs dengan melaksanakan berbagai ritual ibadah termasuk zikir,
serta melakukan prakti riyadhah dan mujahadah. Dari perspektif islam, kesucian
jiwa manusia menjadi syarat utama memperoleh ilmu secara langsung dari sumber
asalnya, yaitu Allah SWT yang diketahui memiliki sifat al – Alim.
(Ja’far,2016:109SWT yang diketahui memiliki sifat al – Alim. (Ja’far,2016:109)
Sub
3 : Integrasi dalam Ranah Aksiologi
Istilah
aksiologi berasal dari bahasa Yunani, axios yang bermakna nilai, dan logos yang
berarti teori. Aksiologi bermakna teori nilai, investigasi terhadap asal, criteria,
dan status metafisik dari nilai tersebut. Aksiologi disebut dengan teori nilai.
Aksiologi juga dimaknai sebagai studi tentang manfaat akhir dari segala
sesuatu. Jadi, aksiologi membahas tentang nilai kegunaan ilmu, tujuan pencarian
dan pengembangan ilmu, kaitan antara penggunaan dan pengembangan ilmu dengan
kaedah moral, serta tanggung jawab sosial ilmuan. Kajian aksiologi lebih
ditujukan kepada pembahasan manfaat dan kegunaan ilmu, dan etika akademik
ilmuan. (Ja’far,2016:110)
KESIMPULAN
dengan
ajaran islam yang bersumberkan kepada Alquran dan hadis. Sebab, dalam Al-quran
terdapat sumber pengetahuan tentang sains yang harus di kaji secara keseluruhan.
Seperti para ilmuan, mereka mendapatkan pengetahuannya bersumber pada Al-quran
dan hadis, seperti ibn sina penemu ilmu kedokteran dan masih banyak lagi ilmuan
lainnya yang beragama islam tentunya.
RELEVANSI DENGAN BIDANG
Relevansi
akhlak tasawuf oleh seorang sistem informasi kita harus dapat mengintegrasikan ilmu
yang kita miliki dengan ajaran agama kita, serta kita juga harus lebih bisa
mengembangkan kemajuan teknologi sekarang ini yang lebih mendukung dan lebih
bisa menguatkan agama kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar